
PATI, Mantranews.id – Musim kemarau basah membawa keuntungan tersendiri bagi petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati Jawa Tengah. Pasalnya, curah hujan yang masih cukup tinggi di musim kemarau mengakibatkan para petani kesulitan dalam memproduksi garam sehingga stok garam di gudang menjadi tipis.
Hal itulah yang dinilai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Hadi Santosa, menguntungkan petani khususnya yang masih punya stok garam di gudang. Berdasarkan pantauannya, harga garam di tingkat petani di Kecamatan Batangan berkisar di angka Rp 1500 hingga Rp 1800 perkilogram. Naik lebih dari dua kali lipat ketimbang harga normal sebesar Rp 800 perak.
“Ini kan masih hujan terus, dampaknya ke air laut untuk produksi. Untuk harga berkisar Rp 1500 sampai Rp 1800 perkilo, ini sangat bagus. Karena biasanya itu hanya Rp 800. Tapi kan harga itu tidak setiap hari, hanya di musim tertentu,” kata Hadi, Senin (14/7/2025).
Meskipun secara kualitas garam produksi Pati masih kalah dengan Rembang ataupun Madura, angka tersebut tentu luar biasa. Hanya saja memang, kata Hadi, apabila harga garam cenderung rendah bisa juga disebabkan karena masuknya garam dari dua daerah tersebut.
Disinggung tidak adanya penetapan Harga Pokok Pembelian (HPP) untuk garam, Hadi menyebut tidak mau kegabah dalam menetapkan HPP. Meskipun disatu sisi menguntungkan petani karena ada patokan harga dan antisipasi permainan tengkulak. Disisi lain Hadi masih berhati-hati karena berpotensi membuat para pembeli enggan membeli produksi garam dari Kabupaten Pati.
“Kita hati-hati untuk menetapkan HPP. Dari sisi petani, pada saat turun bagi petani menguntungkan tapi dari pembeli itu memberatkan,” imbuh dia. (rif)